Kulukis Wajahmu dalam Hujan

October 20th, 2005 by anga-dm

Kulukis kembali wajahmu
dalam hujan
dalam kenangan

Kuurai kembali masa lalu
di tepi jalan dalam rinai hujan
aku mendekapmu, bertumpu
pada dua titik hitam bola matamu

Kenangan itu kulukis kembali
aku masih ingat bagaimana kita terpisah:
hari itu hujan tak lagi turun
banjir surut meninggalkan luka yang dalam

LIHAT AKU

October 19th, 2005 by anga-dm

berkalang debu menimang bungabunga kering menyapa tiap remang di sudutsudut kota nyeri menutup mata menundukkan wajah dari cahaya itu setapak di tepi kota terinjakinjak, becek hujan lihat aku, memunguti rindu di sela jerami di pasirhitam malam tanpa penerang hanya mata terpejam jemari basah terlalu sulit membuka mata sesipitpun jua engkaukah itu tertawa di balik jendela? memandangku iba lihat aku, berkejaran dengan kunangkunang dimana ia berhenti dimanapun aku berhenti, apa peduli perasaan memasuki mesin pencacah tanpa kendali bungabunga di genggaman kering berhambur, angin liar

Di Mana Semesta Menyembunyikan Tidurku?

October 19th, 2005 by anga-dm


Telah kau resapi keluhku,
juga kau jilati peluhku
untuk sebuah pengertian cinta

Esok aku tak datang lagi
membaca mata dan tubuh resahmu,
berkisah tentang malam yang pilu.

Karena aku tak bisa membebaskan diri
dari jebakan misteri semesta yang
setiap saat mengalunkan ayat-ayat kematian.

Apa yang kau lakukan,
Bila semesta menyembunyikan
tidurku di balik tabir mimpi?

Ke mana kau mencariku,
Bila semesta menutup pintu
dan menghapus jejak debuku?

Haruskah melupakanmu?
Seperti aku lalai pada semesta

Kutulis Senyummu Sebagai Warna yang Hilang

October 19th, 2005 by anga-dm

Kulukis senyummu sebagai warna yang hilang. Keping-keping
rahasia menjangkau dadaku. Akupun berdendang dalam palung
terdalam. Menarikan cinta bergaram sepi dan kecemasan. (Dan
sungguh tahu sebatang igaku telah hilang). Sementara kau terus nyalakan

kata membakari dusta. Hingga leleh karat topeng-topeng. Bebungaan
tumbuh mengiringmu. Langkahmu pun menjelma tarian benderang,
lebih dari sekedar rintik hujan. Menepikan kenakalanku. Akulah sepi,

setebah bumi yang dahaga. Kulihat langit merendah mengibar kerudungmu.

Dan kubaca milyaran pagar terentang bagi gunung-gunung angkaku
yang meliar. Hingga kutuntun seutas sungai airmata
menempuh ujung kerudungmu. Jazirah dimana cecahya terbit
memadamkan tawa yang dikirim ocehan radio, internet, televisi,
dan lampu-lampu. Dan terus kulukis senyummu

sebagai warna yang hilang. Sebab sumur-sumur sekarat
di hatiku. Lihatlah, aku mengerang! Mengerang?